Mengambil keteladanan dari Pak Saiful



bersama sahabat MANPK Jember

.

.

.

Dalam perjalananku ke kota pahlawan Surabaya, tak sengaja ku jumpai penjual bakso yang menarik perhatian setiap orang disekitarnya, tak terkecuali aku. Lelaki berkopyah putih yang murah senyum tersebut bernama Saiful Bahri. Di banner gerobaknya tertulis “HAFAL AL-QUR’AN DAN ANAK YATIM PIATU GRATIS SEPUASNYA

Melihat banner tersebut lantas terpikirkan olehku tentang makna ikhlas. Teori tentang ikhlas tentu sudah kita pahami sejak lama, namun penerapannya tak semudah membalikkan telapak tangan. 

Kusempatkan bertanya padanya apakah  tidak merugi dengan penawaran ini. Jawaban beliau sederhana “Saya tidak pernah merasa rugi dengan banyaknya penghafal al-Qur’an yang datang kesini. Dengan bersadaqah kepada mereka, pasti Allah akan melipatgandakan rezeki saya, kalau ndak sekarang ya nanti”. 

Ia meyakini yang mencintai ahli Allah, maka Allah akan mencintainya.

Dari Anas bin Malik R.A, Nabi S.A.W bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi ‘Ahli Allah’. Para sahabat radhiyallahu ’anhum bertanya, ‘Wahai Rasulullah ! Siapakah mereka?’. Beliau S.A.W menjawab, ‘Mereka adalah ahli al-Qur’an, (merekalah) ahli (orang-orang yang dekat dan dicintai) Allah dan diistimewakan di sisi-Nya.” (HR Ibnu Majah).

Motivasi beliau memulai bakso gratisnya  adalah  karena banyak orang yang mengaji namun tidak tahu makharijul huruf atau tempat pelafadzan huruf yang baik dan benar. Sebab itu sembari menyimak hafalan, sesekali beliau membenarkan tajwid-tajwid yang dirasa kurang tepat dari pelanggannya. 


Saat ini beliau juga membuka privat ngaji online. Orang-orang bisa menyetorkan hafalannya dengan voice message melalui WA, kemudian beliau mengoreksi hafalan serta tajwidnya. Mereka terlebih dahulu harus memulai dari surat al-Fatihah karena ia dibaca setiap hari di dalam sholat. Jika lancar maka diteruskan mengaji juz ‘amma. 

Jika kita menengok masa kini, betapa banyak remaja muslim yang semakin jauh dari al-Quran. Memegang al-Quran mungkin hanya di waktu bulan Ramadan. Lihatlah al-Qur’an dirumah kita yang telah berdebu karena lama tidak dibuka. Sadarkah kita bahwa sebutir debu tersebut dapat menjadi saksi dipengadilan Tuhan atas kelancangan kita. Lihatlah smartphone kita yang dipenuhi dengan deringan notifikasi instagram, facebook, WA dll, tanpa sempat terpikirkan menginstal al-Qur’an digital. Kalaupun ada, bandingkan berapa persen ia dibuka dan dibaca setiap hari. 

Cak ri begitu sapaan akrabnya adalah seorang santri alumni Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus. Beliau memberikan tips dan trik bagaimana cara menguatkan hafalan al-Qur’an. Pertama buatlah lingkungan untuk menghafal al-Qur’an. “Kamu tidak perlu menghafal kamus tebal-tebal untuk bisa berbahasa Arab jika lingkunganmu menggunakan bahasa Arab, begitu pula menghafal al-Qur’an. Maka buatlah lingkungan penghafal al-Qur’an”. Yang kedua selalu murajaah hafalan yang kita punya dimana saja dan kapan saja. “Terus muraja’ah sampai orang-orang menganggapmu gila” kata beliau sambil tersenyum.

Selain itu, keteladan yang bisa diambil dari beliau adalah dalam hal berdagang. Dia mengatakan “Hidup kita jangan sampai mengecewakan orang lain”. Tentu dalam hal ini ialah amanah kepada pembeli. Menjadi pedagang harus amanah. Menjadi wakil rakyat harus amanah. Dalam setiap hal kita harus amanah.  Amanah sangat berat sampai-sampai gunung yang kokoh tidak sanggup mengembannya. 

Beliau mengingatkan bahwa menjadi penjual jangan hanya mengejar keuntungan tetapi juga barakah dari pekerjaannya. Barakah yang diartikan sebagai ziyadah al-khair atau bertambahya kebaikan maksudnya adalah setiap perbuatan kita mampu mendatangkan manfaat untuk orang lain. Ia bercerita bahwa ia baru merintis usaha baksonya 1,5 tahun yang lalu, namun saat ini beliau sudah mampu menyewa warung, rumah, dan membeli motor. Ini semua tentu berkah dari sedekah beliau.

Allah S.W.T menegaskan dalam firmannya : 

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir bibit yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir: seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui” (Al-Baqarah: 261)

Komentar

Posting Komentar